Argentina dan Swiss menutup susunan perempat final Piala Dunia 2026 dengan kontras yang langsung menjadi bahan pembicaraan: juara bertahan Lionel Messi, yang bangkit untuk menang 3-2 atas Mesir, melawan Swiss yang menahan Kolombia 0-0 lalu lolos 4-3 lewat adu penalti.

Lionel Messi di lapangan pada 2025 sebelum dorongan Argentina menuju perempat final Piala Dunia 2026.
Bryan Berlin / Wikimedia Commons / CC BY-SA 4.0

Laga ini menjadi topik kuat pada 8 Juli karena melengkapi daftar delapan besar yang penuh nama besar dan kejutan. Prancis menghadapi Maroko, Spanyol bertemu Belgia, Norwegia melawan Inggris, dan Argentina kini mendapat Swiss setelah dua hasil terakhir babak 16 besar.

Perjalanan Argentina kembali ditarik ke arah Messi. Pada usia 39 tahun, sang kapten tetap menjadi pusat cerita ketika Argentina membalikkan ketertinggalan dua gol dari Mesir. Cristian Romero, Messi, dan Enzo Fernandez termasuk dalam daftar pencetak gol pada kemenangan 3-2 yang menjaga juara bertahan tetap hidup.

Swiss datang dengan profil berbeda. Hasil 0-0 melawan Kolombia bukan pertandingan yang terbuka, tetapi menunjukkan struktur yang bisa menyulitkan siapa pun di fase gugur: garis pertahanan rapat, risiko rendah, sabar tanpa bola, dan ketenangan untuk membawa laga ke momen kecil seperti adu penalti.

Perempat final dimainkan dalam jendela 9-11 Juli, periode yang akan membentuk akhir dari Piala Dunia pertama dengan 48 tim. Argentina mengejar gelar dunia kedua beruntun setelah juara di Qatar 2022. Swiss mencoba mengubah konsistensi menjadi terobosan besar melawan salah satu tim paling diperhatikan di turnamen.

Konteks taktik utama: Argentina mungkin tidak akan mendapat ruang transisi sebanyak saat melawan Mesir. Jika Swiss menutup jalur tengah, setiap sentuhan Messi di antara lini tengah dan kotak penalti menjadi titik tekanan. Pergerakan di sekitarnya juga penting, dari lari Enzo Fernandez, tekanan Julian Alvarez, sampai lebar serangan dari bek sayap.

Bagi Swiss, pertanyaannya adalah apakah identitas bertahan bisa berubah menjadi ancaman yang cukup. Granit Xhaka harus memberi kontrol, Manuel Akanji harus menjaga kotak penalti, dan pemain sayap harus menyediakan jalan keluar agar Argentina tidak terus menekan di area berbahaya. Terlalu dalam bertahan bisa memberi Messi bola mati dan bola kedua yang berbahaya.

Cerita bracket membuat minat semakin besar. Maroko mengalahkan Kanada 3-0, Prancis menang tipis 1-0 atas Paraguay, Norwegia mengejutkan Brasil 2-1, Inggris melewati Meksiko 3-2, Spanyol menyingkirkan Portugal 1-0, dan Belgia menghentikan Amerika Serikat 4-1. Perempat final ini tidak lagi terasa seperti daftar favorit yang mudah ditebak.

Argentina-Swiss membawa dua pertanyaan sekaligus: seberapa jauh Messi bisa membawa Argentina dalam salah satu lari Piala Dunia terakhirnya, dan apakah disiplin Swiss bisa membekukan juara bertahan. Setelah satu comeback dan satu adu penalti, pesan dari fase gugur sudah jelas: reputasi penting, tetapi mengendalikan 15 menit terburuk bisa lebih menentukan.