Perempat final Piala Dunia 2026 membuat perebutan Sepatu Emas menjadi salah satu cerita utama turnamen. Kylian Mbappe membawa Prancis sebagai kandidat juara, Lionel Messi masih menjadi pusat serangan Argentina, Erling Haaland menjadikan Norwegia kisah baru yang besar, dan Harry Kane menjaga Inggris cukup dekat untuk mengubah papan top skor di Miami.

Kylian Mbappe bermain untuk Prancis pada Piala Dunia FIFA 2026.
Bryan Berlin / WikiPortraits / Wikimedia Commons / CC BY-SA 4.0

Persaingan ini menarik karena format 48 tim memberi konteks baru. Dengan adanya babak 32 besar, para penyerang yang bertahan sampai akhir bisa memainkan maksimal delapan laga. Satu pertandingan tambahan itu membuat setiap penalti, assist, rotasi, dan kabar cedera terasa lebih penting daripada edisi-edisi sebelumnya.

Jadwal perempat final membuat ceritanya semakin jelas. Prancis melawan Maroko di Foxborough pada 9 Juli, Spanyol menghadapi Belgia di Inglewood pada 10 Juli, Norwegia bertemu Inggris di Miami Gardens pada 11 Juli, dan Argentina melawan Swiss di Kansas City pada 11 Juli.

Mbappe punya argumen paling lengkap karena Prancis masih sangat kuat secara kolektif. Ia sudah memenangkan Sepatu Emas 2022 dan kini kembali menjadi wajah utama tim yang mampu menyelesaikan laga-laga ketat. Lawan Maroko, tantangannya bukan hanya mencetak gol, tetapi juga menembus tim yang nyaman bertahan rapat dan menyerang cepat lewat Achraf Hakimi.

Messi membawa cerita berbeda. Pada usia 39 tahun, nilainya tidak hanya diukur dari jumlah gol, tetapi dari seberapa besar Argentina masih bergantung pada keputusan dan sentuhannya di momen sulit. Juara bertahan itu sudah melewati laga sulit melawan Tanjung Verde dan Mesir, lalu kini menghadapi Swiss yang mencapai perempat final Piala Dunia pertamanya sejak 1954.

Haaland adalah variabel baru yang paling kuat. Norwegia kembali ke Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1998 dan kini tinggal satu kemenangan dari semifinal. Jika Norwegia mengalahkan Inggris, Haaland mendapat jalur tambahan untuk mengejar puncak top skor; jika Inggris menang, Kane memperoleh kesempatan yang sama.

Kane sudah terbiasa dengan tekanan seperti itu. Inggris masih mengejar gelar dunia pertama sejak 1966 dan mencapai titik ini melalui cedera, kartu, dan performa yang belum selalu stabil. Untuk masuk lagi ke persaingan Sepatu Emas, Kane membutuhkan ketajaman di kotak penalti, peluang bola mati, dan Inggris yang tetap hidup setelah Miami.

Aturan tie-break juga penting. Sepatu Emas mengutamakan gol, lalu assist, lalu menit bermain jika pemain masih imbang. Itu memberi nilai besar kepada penyerang yang mencetak gol cepat, ikut menciptakan peluang, dan bisa menjaga tenaga. Bagi pelatih, menjaga kebugaran bintang kini bercampur dengan hitungan individu.

Itulah yang membuat persaingan ini begitu kuat. Prancis, Argentina, Norwegia, dan Inggris masih mengejar trofi; Mbappe, Messi, Haaland, dan Kane masih mengejar status pribadi. Di balik papan skor setiap laga, ada papan skor lain yang ikut menentukan cerita Piala Dunia.