Perempat final Piala Dunia 2026 kini menjadi ujian langsung bagi format turnamen yang diperluas. Prancis, Spanyol, Inggris, dan Argentina tetap membawa label favorit, tetapi Maroko, Norwegia, dan Swiss membuat delapan besar terasa lebih terbuka dan jauh lebih sulit diprediksi.
Sorotan pertama jatuh pada Prancis melawan Maroko pada 9 Juli di Boston Stadium, nama turnamen untuk Gillette Stadium di Foxborough. Prancis datang bersama Kylian Mbappe dalam persaingan top skor dan reputasi skuad yang sangat dalam. Maroko datang dengan misi lain: mencapai semifinal Piala Dunia untuk kedua kalinya secara beruntun setelah terobosan bersejarah pada 2022.
Karena itu, menyebut Maroko sekadar underdog sudah tidak cukup. Achraf Hakimi memberi kualitas dari sisi kanan dan bola mati, pendukung Maroko hadir kuat di kota-kota tuan rumah, dan tim ini sudah menunjukkan saat menghadapi Belanda serta Kanada bahwa mereka bisa bersaing tanpa harus menguasai bola lama. Jika pertandingan menjadi ketat, tekanan bisa cepat berpindah ke favorit.
Norwegia menciptakan gangguan dengan cara berbeda menjelang laga 11 Juli melawan Inggris di Miami Gardens. Ketajaman Erling Haaland dan kendali Martin Odegaard mengubah penampilan pertama Norwegia sejak 1998 menjadi pengejaran semifinal yang nyata. Inggris, yang masih memburu gelar dunia putra pertama sejak 1966, harus meredam tim yang bisa menghukum lawan meski hanya memiliki sedikit peluang.
Swiss adalah cerita paling tenang, tetapi mungkin paling jelas menggambarkan ketegangan fase ini. Laga 11 Juli melawan Argentina di Kansas City mempertemukan lini tengah berpengalaman yang dipimpin Granit Xhaka dengan juara bertahan Lionel Messi. Argentina menjaga aura besar sebagai juara; Swiss mencoba mengubah perempat final pertama mereka sejak 1954 menjadi awal sejarah baru.
Jadwal membuat narasi ini makin kuat. Prancis-Maroko membuka perempat final pada 9 Juli, Spanyol-Belgia menyusul pada 10 Juli di Los Angeles, lalu 11 Juli menghadirkan Norwegia-Inggris di Miami dan Argentina-Swiss di Kansas City. Dengan semifinal pada 14 dan 15 Juli, para favorit juga harus mengelola perjalanan, pemulihan, kartu, dan tekanan penonton.
Ada juga lapisan budaya suporter. Associated Press menggambarkan delapan besar sebagai kesempatan bagi pendukung netral untuk memilih tim baru, sementara panel prediksi memperdebatkan apakah Swiss, Maroko, atau Norwegia dapat merusak jalur semifinal yang diperkirakan mengarah ke Prancis, Spanyol, Inggris, dan Argentina. Minat seperti ini biasanya melonjak ketika Piala Dunia memasuki pekan terakhir.
Bagi FIFA, sinyalnya penting. Piala Dunia 48 tim sejak awal akan dinilai lewat satu pertanyaan: apakah format ini menurunkan kualitas atau memperluas jumlah pesaing yang kredibel. Perempat final kali ini memberi jawaban yang cukup positif. Maroko, Norwegia, dan Swiss bukan hanya bertahan dalam format baru; mereka memaksa para favorit membuktikan bahwa sejarah masih berarti ketika bagan turnamen mulai tidak nyaman.